Makan Malam Bersama di Bawah Lampu Kuning
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul tujuh malam. Aroma harum sayur sop buatan Ibu menguar sampai ke depan pintu, menyambut Ayah yang baru saja pulang dengan wajah lelah. Di meja makan kayu sederhana, Rian (10 tahun) dan adiknya, Kirana (7 tahun), sudah duduk rapi menunggu aba-aba untuk makan.
"Cuci tangan dulu, Ayah, lalu ganti baju," panggil Ibu dari dapur sambil membawa piring berisi tempe goreng hangat.
Keluarga kecil ini jarang memiliki waktu kumpul yang lengkap di siang hari. Ayah bekerja di kantor kelurahan, sementara Ibu mengurus toko kelontong kecil di depan rumah. Namun, setiap jam makan malam adalah waktu suci. Tidak boleh ada gawai atau televisi yang menyala di dekat meja makan.
Saat semuanya sudah duduk, Ayah memimpin doa singkat. Suasana langsung hangat begitu piring-piring mulai berpindah.
"Tadi di sekolah, gambar Rian dipuji sama Pak Guru lho, Yah!" cerita Rian dengan mata berbinar-binar sambil menyendok nasi.
"Wah, hebat anak Ayah. Gambar apa?" tanya Ayah sambil tersenyum lebar, rasa lelahnya seketika menguap melihat semangat anaknya.
"Gambar keluarga kita sedang piknik di kebun raya!"
Ibu tertawa kecil sambil menuangkan teh manis hangat ke gelas Ayah. Kirana tidak mau kalah, ia ikut menceritakan kehebatannya hari ini karena berhasil merapikan mainannya sendiri.
Di bawah cahaya lampu kuning meja makan, Rian memandang satu per satu wajah keluarganya. Ia tidak punya rumah mewah atau mainan mahal seperti temannya di sekolah. Tapi malam itu, ia tahu persis apa arti kaya yang sesungguhnya: tawa, pelukan hangat dari Ibu, senyuman bangga dari Ayah, dan rasa aman yang mengelilingi mereka.